Kenapa Saya Self-Host Semua di Mini PC
Tagihan cloud yang tidak pernah turun
Kebanyakan side project mati dengan cara yang sama: idenya bertahan, tagihan bulanannya tidak. Satu VPS kecil memang murah — sampai kamu butuh tiga, ditambah managed database, dan bucket object storage yang diam-diam membengkak.
Saya ambil arah sebaliknya. Satu box Intel Celeron J4105, RAM 14GB, SSD, dan koneksi Biznet fiber sekitar 280/160 Mbps. Harga belinya: lebih murah dari satu tahun biaya cloud yang setara. Semua di bawah ini jalan di box tersebut hari ini.
Apa saja yang jalan di box itu
- Platform e-commerce (frontend Next.js, backend FastAPI, PostgreSQL, worker)
- Sekumpulan gateway AI agent yang menulis kode, mereview PR, dan menjalankan QA
- Caddy sebagai reverse proxy untuk semuanya, dengan TLS otomatis
- Blog ini — HTML statis yang digenerate script Python lalu di-push ke GitHub
J4105 bukan prosesor kencang. Dan memang tidak perlu. Workload web di skala proyek pribadi itu I/O bound, dan SSD plus RAM 14GB menutupi lebih banyak dari yang kamu kira.
Trade-off yang jarang disebut orang
Self-hosting itu tidak gratis. Kamu adalah on-call engineer-nya sendiri. Kalau ISP drop paket jam 2 pagi, tidak ada status page yang bisa disalahkan. Mitigasi saya:
- Systemd di mana-mana. Semua service restart otomatis.
- Backup offsite tiap malam. Box-nya boleh mati; datanya tidak boleh.
- VPS murah sebagai wajah publik untuk workload yang sensitif latensi atau DNS.
Hitungannya
Empat tahun biaya cloud untuk stack ini akan melebihi harga hardware di tahun pertama. Break-even tercapai sekitar bulan kedelapan, termasuk satu kali ganti SSD yang mati.
Kalau workload kamu bursty dan toleran latensi — CI runner, agent, batch job, tool internal — mini PC bekas di belakang koneksi fiber susah dikalahkan. Kalau kamu butuh availability lima sembilan untuk pelanggan, bayar pajak cloud dan berhenti membaca blog dari orang yang self-host.